Rabu, 11 Mei 2011

Bahoba di Kronik! (pertaruhan eksistensi seorang Katamsi Ginano)

Bahoba! di Kronik!
(Ketika Eksistensi Sedang Dipertaruhkan)


Oleh : M. Fahri Damopolii


Setiap kali menerima pesan pendek untuk sekadar mengunjungi situs http://kronikmongondow.blogspot.com, tanpa dipaksa pun, mau tak mau saya harus selalu ikhlas menahan senyum campur geli. Kenapa harus senyum; karena tiap-tiap pesan pendek yang dikirimkan langsung sang “empunya” blog ke telepon genggam saya, membawa petanda langit cakrawala berfikir penulisnya sedang menohok, mencengkeram, menabrak dinding pemahaman yang karatan, kumal , kotor, jauh patut untuk disebut “kinclong”, tak lupa gaisan kuas yang “bengkok” masih perlu diluruskan. Mungkin untuk itulah senyum pun harus diumbar kemana-mana. Apa urusannya dengan geli! Sebab; tiap-tiap kata yang diuntai―di luar percakapan lewat sms yang diunggah ke dalam blog― dijejalkan penuh perhitungan untuk tak menafikan berbagai “fakta “, disajikan dengan “reportase bertutur” yang khas, berirama satu dengan lainnya membentuk senandung; kesedihan, kejengkelan, kekecewaan, ke-tidaksetuju-an, senang, girang maupun gembira. Dan senandung dengan segala “rasa” ini yang mendorong kerelaan saya untuk menahan geli! Tak peduli yang lainnya gerah, marah, dengki, tensi darahnya naik, kebakaran jenggot, meliuk-liuk bak cacing kepanasan.

Katamsi Ginano, terserah dia mewujudkan bentuk dalam rupa apapun, adalah senior, teman, sahabat, abang bagi saya secara pribadi. Satu dekade lebih mengenal orang ini, membentangkan cakupan spektrum hidup penuh warna yang tak pernah aus dimakan waktu, keropos termakan usia. Tanpa perlu malu, terkadang saya takjub sembari berdecak kagum oleh luasnya spektrum yang ia bentangkan, dan tanpa sadar pun, itu secara tidak langsung merasuki hampir segenap pemikiran, pandangan, perspektif dengan aroma kritisnya tentang Bolaang Mongondow Raya, lengkap dengan segala aspek kehidupannya. Sebagai seseorang yang membuncah tak kala memamerkan “kemongondowannya”―dan itu yang paling getol ia pertahankan dalam setiap helaan nafas, detak jantungnya―jempol jari saya seperti enggan turun ketika dengan lugasnya ia berbicara tentang Bolmong dulu dengan segenap kenangannya, saat ini dengan segala dinamikanya, dan progress Bolmong kedepan tentu saja dengan harapan yang digantung setinggi langit peradaban yang menghentak, kadang membisu. Dan kebuncahan yang “disombongkan” ini merangkum segenap kata yang patut diuntai; konsistensi serta komitmen yang tak (belum) hadir untuk lekang.


Ruang Kosong “Keberpihakan”


Sejak kali pertama menerima telepon¬―tentu saja dari pemiliknya¬―pemberitahuan tentang “kronik mongondow” yang terlintas dalam benak adalah sekelumit “dugaan” dan “asumsi”. Untuk yang satu ini, karena bersingunggan dengan ranah privat, tidak ada seorang pun yang boleh melarang atau memaki saya untuk “menduga” dan “berasumsi”―tentu tak terkecuali Katamsi Ginano. Apalagi untuk seorang pengkritik “brutal” sekaliber ini, “dugaan” adalah keharusan, dan “asumsi” adalah kepatutan yang terkontekstualisasi oleh senandung yang ia lantunkan. Dan benar! Desas-desus yang selama ini mampir di telinga saya menuai titik terang bahwa; ada keberpihakan yang dipertontonkan dengan terang benderangnya, vulgar, melumat ranah “konsistensi” dan “komitmen” yang selama ini dijunjung setinggi langit. Dimana-mana kelaziman hadir untuk tak diperdebatkan ketika sesuatu yang “biasa” dapat diterima dalam “ranah publik”. Akan tetapi etika “pengkritik” tentu mengeneralisasi keberpihakan yang diperuntukkan. Untuk siapa keberpihakan itu? Untuk apa? Rakyat Bolmong lagi dimana? Dan untuk seorang Katamsi Ginano, tak perlu melumerkan air liur kemana-mana menghabiskan tenaga berdebat, abang saya ini tentu tahu “keberpihakan” harus ditempatkan di ruang seperti apa. Dalam konteks ini, otak kumal saya selalu berpaling ke pemahaman yang digambarkan Mohamad Sobary tentang konsep “menara gading-nya” bahwa; dengan berada di menara yang tinggi, bebas polusi kekuasaan dan materi, kreatifitas dan produktifitas kita dalam memberikan segenap pencerahan lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Eksistensi yang Terpinggirkan


Ketika “keberpihakan” dipamerkan, dipertontonkan, ditunjukkan se-vulgar mungkin di siang hari bolong, di tengah teriknya matahari yang menyengat, tentu konsekuensi sedang antri menunggu giliran. Pertama; secara tidak langsung konsistensi seorang Katamsi Ginano yang ia gambarkan penuh warna dalam spektrum perjalanan hidupnya akan sedikit tercoreng. Artinya, warna “putih” yang ia torehkan, terutama ketika memposisikan kewajibannya sebagai intau mongondow yang merasa terusik oleh berbagai kebijakan “salah kaprah” maupun perilaku menyimpang yang dipertontonkan elit daerah, baik itu jajaran pemimpin maupun para politisinya, akan menggiring persepsi masyarakat luas bahwa Katamsi Ginano yang selama ini identik dengan ke-brutalannya mengkritik, buas ketika kepentingan “orang banyak” ditelikung segelintir elit, mencaci maki ketika rakyat Bolmong sedang dibodohi, memijakkan kedua kakinya di tengah masyarakat Bolmong untuk memperjuangkan sebuah “harga diri”, ternyata urung berubah wujud. Katamsi yang terlanjur ditahbiskan sebagai milik “rakyat Bolmong”, juga bisa menunjukkan keberpihakannya pada se-kelompok elit. Dan pada akhirnya “putih” itu mungkin tak putih lagi.

Kedua; dengan pijakan yang secara gamblang ia tegaskan, ranah persepi orang banyak yang tentu saja masih berhak menjustifikasi lewat “dugaan” atau “asumsi” akan lebih tertarik kearah subjektifitas yang membabi-buta; bahwasanya keberpihakan itu pasti mengandung “pamrih”. Bahwasanya; Katamsi bisa “dibeli” boleh “dibayar”, layak “digadai” demi suatu maksud. Untuk yang ini, dalam beberapa kesempatan Katamsi telah mengklarifikasi langsung, termasuk terhadap saya pribadi. Namun, persepsi orang banyak tentu tak bisa ditebas. Apalagi ketika orang banyak itu adalah “rakyat Bolmong Raya” lengkap dengan segala dinamikanya.

Lepas dari segala konsekuensi yang ada¬―dan setahu saya, ia tentu tak akan pernah peduli dengan itu―Katamsi Ginano adalah warna tersendiri dalam jagad perpolitikan Bolmong Raya. Kalau boleh memimjan ungkapan William Liddle dalam buku “Islam Politik dan Modernisasi; Jakarta, Pustaka Sinar Harapan;1997”, terutama ketika ia harus menggambarkan sosok penyair besar sekaliber Goenawan Mohamad. Menurut saya pribadi, Katamsi Ginano adalah satu dari sekian “burung langkah dalam sangkar intelektual Bolaang Mongondow Raya khususnya, Sulut pada umumnya”. Sepuluh Katamsi sungguh tak cukup, seratus Katamsi masih kurang, dan seribu Katamsi belum memadai sebagaimana pernah diungkapkan Suhendro Boroma―Direktur Utama Manado Post. Tapi dilubuk hati yang paling dalam; saya masih merindukan satu orang Katamsi. Satu saja! Bukan dalam sosok “milik privat” tapi mewujud sebagai “milik publik”. Dan orang itu adalah Katamsi Ginano; senior, teman, sahabat, abang saya secara pribadi.#

1 komentar: