Sabtu, 26 Mei 2012

Terantuk Bongkahan Congkak! (2)


(tanggapan untuk Katamsi Ginano)


Pentingkah saya? Lebih gila lagi. Tentu tidak. Penting bagi keluarga saja rasanya sudah syukur. Tak merasa penting lebih nyaman untuk saya. Orang-orang yang mengenal saya mafhum dengan itu. Yang sempat kerja bersama-sama khatam siapa saya. Seorang tak penting. Dan tak punya cerita “penting” hal luar biasa hebat. Hidup bagi saya toh bukan tentang “penting”. Apalagi “penting congkak.”  Menjadi “baik” pun punya arti tersendiri.

Signifikansi dan kontribusi untuk mongondow? Lebih parah lagi. Saya tak miliki roman tentang itu. Saya tak punya stok cerita kepahlawanan tentang kontribusi yang bisa disombongkan se-mau hati. Disemburkan ke muka publik sembari telunjuk menunjuk jidat orang banyak,  congkak  memaki “saya pemberi kontribusi besar bagi Mongondow. Pahlawan Mongondow. Orang Mongondow wajib membingkai saya laksana pahlawan. Meski  roman itu omong besar seorang “pembual.”  Sangat jelas saya tak berani. Takutnya! Begitu foto saya dibingkai indah dan dipajang  bagai pahlawan Mongondow. Setiap orang lewat akan mampir. Bukan terpesona. Bangga akan roman kepahlawanan itu. Tapi mengumpat “dasar  mulut  besar”, cuihhh!


Meski tak punya cerita kepahlawanan, Indah rasanya kontribusi tak diumbar. Tak meng-klaim. Biarkan vonis mutlak milik orang banyak. Sementara saya yang tak punya apa-apa ini, lebih memilih bekerja dari pada “omong besar.”  Perkara saya mengenal Djelantik Mokodompit, dan terlibat dalam kegiatan Rasky Mokodompit. Cukup tegas; itu bukan urusan Katamsi. Hantu blau gila dari mana bisa mencampuri  perkawanan saya? Untuk liur dan lidah, saya tak lahir untuk itu. Semua yang mengenal saya, tentu tahu. Saya belum mampu laksana “anjing penjaga” yang luar biasa brutalnya mengonggong ketika tuan-nya diganggu. Sama halnya, belum mampu menjadi PNS (CPNS) baru yang bekerja kurang lebih dua tahun, kemudian dipromosikan sebagai salah satu Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas. Dan saya tak mempersoalkan itu. Elit pimpinan tentu punya “mata” sendiri.

Ketiga, penulis kah saya? Terpikir siapa saja takut! Apalagi penulis. Jelas saya, bukan penulis. Tak pernah terlintas sedikit pun jadi penulis. Bercita-cita pun tidak. Sia-sia belaka jika untuk tulis menulis mesti meraih gelar hingga S3. Siang malam mata melek untuk mengasah kemampuan. Tapi saya penasaran. Ingin jumpa “murid dari murid dari murid” Katamsi. Sekadar tegur sapa untuk ketidakmampuan saya, atas kuasa mereka. Untuk berkaca di ujung pensil! Saya balik menyarakan Katamsi “bakaca di panta blanga.” Berdoa-lah anda masih bernafas secara utuh 15-20 tahun ke depan—sebagaimana doa saya untuk setiap kurang usia. Tulang belulang masih kuat. Keriput tak menggeroyoti tubuh. Tersebab jika anda punya kuasa atas kepentingan publik, bisa jadi saya akan mengkritik anda se-sadis dan se-brutal arus hati. Mungkin hingga kata tak terucap. Jantung henti detak. 


Keempat, kalau A R Thomas, telah membuat Katamsi bak cacing kepanasan.  Thomas, tentu berhasil menempeleng kesombongan “naga culas” ini. Se-sekali si “naga culas” ini memang perlu ditempeleng,  agar batok kepala penuh congkak yang mulai membesar membelah gunung, redam oleh sakit hati orang-orang yang tersakiti. Mereka yang direndahkan, diremehkan, dihina se-nista gila, pasti antri mengular ambil bagian. Sedang ancaman fisik untuk membuat saya mengunyah dengkul dan sikut. Setelah itu memamah gigi sendiri. Tak sabar rasa hati menanti saat itu. Pun mengempiskan batok kepala saya cukup dengan satu kelingking. Sebenar-benarnya satu kelingking. Hebat benar! Jangan-jangan si ceking sombong ini ganti rupa bagai Tuhan. Atau lebih kuasa dari Tuhan. Tapi pantaskah?



Ancaman fisik (tafsir Katamsi) “kalu baku muka kita so tumbu.” Saya masih menyimpan percakapan tulis itu. “Kalo ada di muka qt so pangge baku pukul ini noh.” Itu yang saya tulis. Pun itu atas derasnya caci maki Katamsi ke jidat saya, yang teramat sangat “kasar.” Dan untuk itu, kata maaf  telah saya sampaikan.Tak perlu pelintiran sesat. Itu hanya dilakukan bebal ke-sasar.

Bupati Salihi Mokodongan beserta istri tentu membaca utuh apa yang dituliskan A R Thomas. Seluruh rakyat Bolmong pun tak buta hati untuk lihat. Siapa menghina? Siapa tidak. Jika atas nama Thomas, tudingan saya mengejar politik dagang “tawar-menawar” untuk kepentingan pribadi. Sesal saya, kenapa tak dari dulu!


Kelima, prakiraan cuaca suhu politik Bolmong dan Kota Kotamobagu. Khususnya jelang pilwako 2013. Tegasnya; saya tak tahu, “kita bukan politisi kasiaaannnggg.” Tapi main catur tak hanya satu tepukan dua.  Kurang  menarik. Detailnya, tanyakan langsung ke tokoh-tokoh politik yang terlibat. Kecuali niat  jadi pengamat politik dengan segumpal duga “omong besar.”  Silahkan!


Peringatan lain untuk sukses saya menciptakan musuh dimana-mana. Bukankah itu seperti meludah menunjuk langit sambil telunjuk menuding hidung sendiri. Siapa pun terpilih nantinya dalam pilwako Kota Kotamobagu periode kedua, meski bukan Djelantik Mokodompit, jelas saya tak harus pikir. Catat besar-besar! Saya tak peduli! Tak pernah takut! Termasuk menanti kesabaran revolusioner bersama “gajah congkak.”


Simpulnya, sebelum terantuk sekian kali. Meski Katamsi, lampau pernah berbagi; tak perlu permasalahkan siapa sang “ghost writer.” Debat saja substansi-nya. Saya menyarankan Katamsi membaca kembali tulisan A R Thomas. Baca cermat dan teliti. Kecanggihan teknologi bisa dengan mudah menunjuk muka orang. Tapi bukan berarti konseptornya orang yang sama. Tak perlu membawa tulisan itu dianalisa penulis terbaik negeri ini, sekelas penyair besar  Goenawan Mohamad. Bisa jadi sang konseptor utama—sebenar-benarnya—artikel itu sedang menertawakan Katamsi.


Jangan bayangkan wajah saya. Bayangkan saja wajah-wajah kawan lama anda.  Runut satu per-satu. Mungkin dia penulis dan se-level. Karena saya, sangat jelas. Bukan siapa-siapa. Tak perlu dianggap atau ditanggapi. Terkecuali yang menanggapi adalah idiot pandir bin congkak, yang haqul yakin surga kebenaran berada tepat di telapak kaki. Lainnya? Nista.#

Terantuk Bongkahan Congkak (1)


(tanggapan untuk Katamsi Ginano)

Cukup lama tak menulis ternyata membawa berkah tersendiri bagi saya. Terakhir menulis kala mengkritik Bupati Lapadengan lewat “M Untuk Bupati Lapadengan” yang dipublis Harian Radar Totabuan se-tahun lalu. Berkah itu pun bagi saya mau tak mau harus disyukuri. Berkah pertama, jari-jari telunjuk yang menuding  jidat saya kala ada artikel yang dilansir media cetak Bolmong, dan ruh saya—menurut orang—gentanyangan dalam artikel tersebut. Berkah kedua, makian pedas Katamsi Ginano yang langsung menyemburkan ludahnya ke muka saya. Mendapat caci maki dari Katamsi, bagi saya adalah kerinduan tersendiri. Sebab, sampai detik ini pun menurut saya, belum ada yang mampu, pantas dan layak menggantikan posisi Katamsi sebagai “empuh-nya makian.” Dia belum tergantikan. Dan memang telah cukup lama saya tak dimaki. Apalagi dari seorang Katamsi Ginano, yang “makiannya” terkenal bukan hanya se jagat Bolmong. Bahkan se-antero bumi.

Sebenarnya saya, enggan menanggapi. Sebab berdebat dengan Katamsi adalah omong besar dan kesia-siaan belaka. Percayalah, mengalahkan si ceking jelek ini bukan perkara mudah.  Baru saja ber-argumentasi, Katamsi, telah siap dengan seribu argumentasi. Lengkap dengan sejuta makian yang memerahkan kuping. Tapi karena nama saya disebut dalam “Motif Culas dan Batas Api (1-3, RT, 22-24/5), yang hampir keseluruhan isinya makian  tendensius bagi saya. Tak ada salahnya ditanggapi. Tersebab  si ceking jelek ini telah memaki secara terbuka, saya pun meminta space yang sama di Harian ini, meski sekadar membetulkan tudingan yang tumpah ruah kemana-mana.

Permintaan itu pun diikuti penegasan; saya tak akan melibatkan teman-teman di Harian ini. Ini urusan saya dan Katamsi. Perkenankan saja saya mengikuti Katamsi “kata-kata dibalas kata-kata.” Tak perlu saya, membawa-bawa dewan pers. Tak mesti saya, mengeluarkan ancaman pidana dan perdata. Atau sebagaimana yang ia katakan langsung “jang ngana bawa ini ka polisi.” Konteks kerugian yang saya alami tentu lebih parah dari Katamsi. Caci maki yang saya telan lebih sadis dan brutal. Sementara kritik A R Thomas terhadap Katamsi, masih dalam kewajaran. Terlebih bagi saya, ancam-mengancam wujud lain dari “banci pengecut” yang sok jagoan se-semesta raya. Kebetulan saya bukan “banci pengecut”. Dan saya akan menghadapi itu dengan “kata-kata.”

Itu pula jawaban saya untuk keluarga, kerabat dekat dan para sahabat. Begitu seri 2 dan 3 tulisan itu tersaji ke ruang publik, telepon, SMS, BBM menderas masuk ke telepon genggam saya. Isinya terpahami: makian, hujatan, sumpah serapah untuk Katamsi. Tak ingin terbawa arus, saya menjawab singkat “ini urusan saya dan Katamsi, kata-kata dibalas kata-kata. Kita deng dia kwa cuma suka baku gara.” 

Pertama, ikhwal  tulisan  Metamorfosis  Katamsi ke Wujud Makin Lucu (1/2, RT, 14-15/5)”, yang ditulis A R Thomas. Dibaca secara utuh, tulisan itu jelas mempertanyakan sekaligus membandingkan dua tulisan Katamsi di blog pribadinya.  Sempat dipublis beberapa media cetak Bolmong. Substansinya bagi saya, terang benderang. Ada dua hal kontradiktif menurut analisa penulisnya. A R Thomas tentu ingin memastikan pintu mana sebenarnya Katamsi lalui. Apa lewat pintu depan rumah Salihi, sambil tangan terbuka memeluk. Atau malah mengendap lewat pintu belakang dengan daya dobrak kesusilaan yang teramat biadab. 

Tak lama menunggu, Rabu pagi (16/5), Harian Radar Totabuan menurunkan tulisan  Katamsi--O, Cuma Proklamasi Orang Bermartabat Receh 1/2 (16-17/5), menanggapi artikel A R Thomas. Di artikel itu pun, Katamsi sudah menjawab apa yang ditanyakan Thomas, bahwa “kesetiaan saya bukan pada orang, tetapi pada ide dan visi”. Di titik ini, substansi perdebatan bagi saya, sudah terpenuhi. Lainya, tentu biar publik yang menilai. Kalau konteks kerugiannya dipolemikkan. Pernah terpikirkah bagaimana perasaan Salihi dan istri. Linda Lahamesang tentu punya perasaan. Orang-orang  yang selama ini dikritik Katamsi secara pedas dan brutal tentu mirip Linda. Masih punya “perasaan.” Bagaimana dengan keluarga mereka. Berapa besar kerugian. Berapa banyak sakit hati. Bisakah Katamsi sedikit saja menyelami rasa itu. Kalau kritikan memang mengarah ke pejabat publik oleh tanggung jawab yang dipikul dan mereka yang terlibat didalamnya. Nihil makna-kah jika itu disampaiakan lebih adab. Cibiran akan mendapuk wajah Katamsi, jika kuasa mengkritik di alam semesta ini mutlak milik Katamsi, Katamsi dan Katamsi. Begitu dikritik balik “ohh tidak bisa.” Setan belang dari mana yang hanya memikirkan rasa sendiri?

Kedua, siapa saya? Pentingkah saya? Signifikansi untuk kemaslahatan Mongondow? Kontribusi apa? Katamsi benar. Bahkan 1000 persen benar. Jelas saya bukan siapa-siapa? Berpikir tentang siapa saya saja, tak pernah niat dan berani. Apalagi disanding seorang Katamsi Ginano, tambah telak. Prestasi Katamsi dalam “caci maki” luar biasa hebat. Tak ada duanya “paling hebat se-dunia.” Terutama ketika lidah dan liurnya mulai muncrat kemana-mana, dan omongannya merayap menuju puncak gunung tertinggi dunia. Tak peduli orang-orang sekitar mulai mual, muntah oleh omong besar itu. Saya tak mampu menuding puncak. Saya lebih memilih hidup dengan kebukansiapa-an. Itu lebih nikmat. Tanpa harus membuat mulut orang monyong di balik punggung, menuding ubun-ubun.

Kamis, 16 Juni 2011

"M" Untuk Bupati Lapadengan

(dipublikasikan Harian Radar Totabuan, Kamis, 16 Juni 2011)
Hari masih terlalu pagi. Nun jauh di ufuk timur, mentari masih enggan keluar dari peraduan untuk sekadar menyunggingkan senyum kecil. Waktu belum menunjukkan jam 06.30 pagi, dan hawa dingin masih membalut sebagian besar wilayah Kotamobagu. Di satu rumah yang terletak di salah satu sudut Taman Kota, dua orang berkendara bergegas turun menderapkan langkah melewati selasar, merangsek hingga kedepan pintu masuk, mengetok pintu rumah yang masih tertutup rapat. Di pagi se-buta itu. Di jam se-dingin itu, tak perlu kesal mencari musabab! Sang empunya rumah tentu masih terbuai oleh mimpi indah, terkulai oleh lelah yang menyengat. Seorang perempuan usia 30-an keluar menyapa tamu yang datang, sembari menghaturkan tanya “ada apa?”. “Pak Kabag ada?”, ketus salah seorang berperawakan kecil. “Ada! mar masih tidor!”, jawab perempuan itu. Seorang lagi berperawakan agak kekar, dengan setelan t-shirt salah satu SKPD Bolmong─belakangan diketahui sebagai salah satu petugas Satpol PP─langsung menyergah, “se bangon akang! Bilang pak bupati ada suruh pangge! Skarang!”. Perempuan yang ditanya─lebih tepat diperintah,­ bergegas masuk ke dalam rumah untuk memastikan kembali keberadaan tuannya. Tak lama berselang, seorang perempuan paru baya keluar dari arah belakang sambil menyapa tamu yang datang. “Pak Kabag masih tidor noh! Tako kita kase bangon!” jawabnya. Petugas Pol PP tak mau kalah. “sini dulu dang ngana supaya kita mo kase mangarti!”─masih dengan nada perintah. “Pi kase bangon pa pak kabag, bilang pak bupati ada pangge skarang! kalo ngoni tahu torang pe bupati itu sedang orang nda ada salah dia boleh se isi penjara!”, ucapnya dengan congkak. Tak terpengaruh sedikit pun, perempuan paru baya itu balas berujar, “adoh! Tako kita noh, soalnya kita nda pernah kase bangon pa pak kabag kalo dia masih tidor!”. Merasa gayung tak bersambut, sang petugas Satpol PP bergegas ke depan pintu kamar Pak Kabag, menggedor pintu sambil memanggil-manggil sang tuan rumah. Kejadian berikutnya tak perlu diceritakan lagi. Bagi yang pernah merasakan pengalaman serupa tentu tahu seperti apa “chapter” berikutnya.
Perspektif Sumir
Yang paling saya khawatirkan setiap kali menuliskan kolom adalah tarian kolot subjektivitas yang mengangkangi batok kepala saya dengan jebakan surealisme yang menggoda, menelanjangi realitas, serta kecenderungan untuk menarik perspektif yang tergolong sumir. Dan itu yang saya rasakan tak kala membaca dua buah tulisan Abang saya, Katamsi Ginano yang di upload ke dalam blognya (http://kronikmongondow.blogspot.com), masing-masing; “Pada Satu Santap Siang dengan Bupati Gun Lapadengan”, dan terakhir “Terapi Kejut Penjabat Bupati Bolmong”. Bagi pembaca yang belum terlalu mengenal sosok Gun Lapadengan, tulisan itu implisit menggambarkan sosok “mahluk ideal”, figur “birokrat profesional” yang seakan belum terjamah oleh noda dan dosa. Akan tetapi untuk mereka yang tahu betul siapa Gun Lapadengan, bisa dipastikan yang akan dilakukan tentu sebatas menggelengkan kepala.
Mungkin untuk itu pula, saya yang cukup mengenal sosok Bupati Gun Lapadengan, agak terkejut dengan tulisan itu. Bahwa Gun Lapadengan adalah sosok “mahluk ideal” menurut saya ya!. Bahwa Penjabat Bupati Bolmong ini adalah figur “birokrat profesional”, cukup masuk di akal. Akan tetapi, pantaskah ini kemudian dijadikan pijakan untuk menggambarkan Bupati Lapadengan hampir sedemikian utuhnya, lewat cerita “terobosan” maupun “shock terapy” yang ia lakukan.
Dalam kacamata apapun, saya tahu betul Katamsi Ginano tentu tidak sedang menjulurkan lidah untuk mulai “menjilat” ketika menuliskan itu. Karena Katamsi tergolong orang yang tak pintar, tak berbakat untuk membiarkan lidahnya mulai bercabang, menjalar dan mengeluarkan suara “mendesis” di kuping para penguasa. Sama halnya ketika ia tak ingin “terjebak memuji Penjabat Bupati Gun Lapadengan yang masa kerjanya terlampau pendek untuk mengukur kinerja utuhnya”. Namun, tetap saja “puja-puji” telah terlanjur digulirkan dan opini orang banyak tentu tak bisa dibendung.
Yang justru menjadi kekhawatiran saya bahwa lakon “heroik”─meski dalam konteks seadanya─yang ia paparkan dalam tulisan tersebut bisa berbalik arah dan menghantam frasa yang ia tuliskan sendiri; “don’t judge a book by the cover”. Artinya, membaca kedua tulisan tersebut, bukankah pembaca sedang digiring masuk “perangkap” untuk men-judge seorang Gun Lapadengan hanya dari kulit luarnya saja. Bukankah kita sedang dibuat terbuai oleh salah satu tag iklan yang cukup menggiurkan; “kesan pertama begitu menggoda”.
Saya membayangkan suasana makan siang bersama Bupati Gun Lapadengan itu. Seandainya yang bersua bukanlah seorang Katamsi Ginano─orang paling “killer” dalam kata-kata di jagat Bolmong Raya─tentu kondisinya bisa jauh berbeda. Bagaimana jika yang makan bersama adalah rakyat kelas “teri” laiknya saya. Apa yang akan terjadi kemudian? Tak usah dipikir panjang sebab paradigma berpikir sebagian birokrat Bolmong masih terkungkung oleh “klan” orde baru, yang menempatkan rakyat banyak laksana hamba dan wajib hukumnya untuk “melayani”.
Kamuflase sangat mungkin terjadi dan orang-orang tak akan pernah malu untuk jadi “bunglon”. Raut wajah bisa dipermak, cara duduk gampang diatur, cara makan pun bukan sesuatu yang sulit untuk diakali. Di sini, saya tidak sedang dalam kapasitas untuk meragukan “keluguan” seorang Gun Lapadengan. Tapi “pameo” umum sudah terlanjur membumikan kemafhuman bahwasanya segala sesuatu sangat-sangat bisa di-setting, terutama ketika yang bicara adalah “kepentingan”. Terlebih untuk pengkritik brutal sekaliber Katamsi dengan sisi intelektualitasnya yang bagi saya begitu mengesankan. Orang besar saja risih berhadapan langsung, apalagi “orang kecil”. Di depan Katamsi, tak perlu sungkan “bermanis-manis” sambil memaparkan konsep pembenahan dan penyiapan yang amat sangat brilian, kalau boleh yang paling “wah!”. Dan satu yang perlu dikutipkan kembali sekadar mengingatkan sebagaimana yang dituliskan Katamsi “Dalam melaksanakan pembenahan dan penyiapan itu, tegas Bupati, dia sama sekali tak berniat meminggirkan –terlebih menyingkirkan—seorang birokrat pun. Kalau akhirnya ada yang memilih meminggirkan diri, dia tidak akan menolak. ‘’Bukankah Pak Gubernur juga menegaskan agar tidak melakukan perubahan, kecuali atas permintaan birokrat yang bersangkutan,’’ katanya sambil tertawa”.
“M” yang Mana?
Akan halnya “Terapi Kejut Penjabat Bupati Bolmong”. Dari aspek substansi, pembaca yang budiman tentu bisa dengan mudah membandingkan kedua tulisan tersebut. Bukan dari sisi penulisnya, tapi dari “subjek” yang digambarkan. Yang bisa didapati bahwa secara langsung, sang Penjabat Bupati Bolmong sedang berusaha menampar wajah sendiri dengan sangat sadarnya dan tanpa malu-malu. Di titik ini pun, saya cukup tahu diri untuk tak masuk wilayah itu, selain lubang subjektifitas yang mengangga begitu lebar bagi saya pribadi, juga karena langit runtuh sekalian pun itu hak beliau sebagai Penjabat Bupati─apalagi seandainya undang-undang maupun ketentuan peraturan memungkinkan itu. Akan tetapi jika yang menjadi sebab musabab hanya karena “cerita dongeng” orang suruhan, “ancaman bui” yang tak berbalas dan ego birokrat sang Penjabat, tentu ini tamparan keras kesekian kali yang seakan tak pernah habis untuk iklim birokrasi di Bolmong. Saya cukup sadar, sebagaimana yang diuraikan Katamsi, bahwa apa yang dirasakan saat ini oleh para birokrat yang “dipinggirkan”, belum sebanding dengan apa yang dirasakan oleh mereka-mereka yang dahulu jauh dari “kekuasaan”, yang kebanyakan hanya bisa pasrah sambil “mengurut dada” menyaksikan ketimpangan maupun ketidakadilan yang dipertontonkan para penguasa. Tapi Ini bukan “roman” tentang itu. ini lebih pada pertanggungjawaban terhadap kebijakan yang ditempuh, dengan mengedepankan landasan argumentasi yang memadai, jauh dari segala macam “bau amis” tendensi. Untuk ukuran masa jabatan yang hanya “sepelemparan batu” ini, saya rasa Penjabat Bupati Gun Lapadengan tentu menginginkan tata kelola pemerintahan akan berjalan sesuai yang diharapkan, meminimalisir segala kemungkinan resistensi yang bakal muncul ke permukaan, serta membutuhkan dukungan penuh seluruh aparatur pemerintahan yang ada dibawah kendalinya untuk melaksanakan tugas-tugas yang diemban sebagai Penjabat Bupati. Tentu agar berhasil dan bisa dikenang sebagai pembawa “simpati” dan bukan “antipati”.
Sesuatu yang salah perlu dibetulkan, khilaf patut ditegur, yang “bengkok” semestinya diluruskan. Besar harapan kiranya iklim birokrasi Bolmong bisa ditempatkan kembali se-profesional mungkin, bebas dari intrik politik, maupun “balas dendam”. saya rasa, Bupati Lapadengan juga menginginkan itu, agar orang banyak bisa berseru “Muantap”, “Makyus” dan bukan “Makang Puji!”.*

Rabu, 11 Mei 2011

Bahoba di Kronik! (pertaruhan eksistensi seorang Katamsi Ginano)

Bahoba! di Kronik!
(Ketika Eksistensi Sedang Dipertaruhkan)


Oleh : M. Fahri Damopolii


Setiap kali menerima pesan pendek untuk sekadar mengunjungi situs http://kronikmongondow.blogspot.com, tanpa dipaksa pun, mau tak mau saya harus selalu ikhlas menahan senyum campur geli. Kenapa harus senyum; karena tiap-tiap pesan pendek yang dikirimkan langsung sang “empunya” blog ke telepon genggam saya, membawa petanda langit cakrawala berfikir penulisnya sedang menohok, mencengkeram, menabrak dinding pemahaman yang karatan, kumal , kotor, jauh patut untuk disebut “kinclong”, tak lupa gaisan kuas yang “bengkok” masih perlu diluruskan. Mungkin untuk itulah senyum pun harus diumbar kemana-mana. Apa urusannya dengan geli! Sebab; tiap-tiap kata yang diuntai―di luar percakapan lewat sms yang diunggah ke dalam blog― dijejalkan penuh perhitungan untuk tak menafikan berbagai “fakta “, disajikan dengan “reportase bertutur” yang khas, berirama satu dengan lainnya membentuk senandung; kesedihan, kejengkelan, kekecewaan, ke-tidaksetuju-an, senang, girang maupun gembira. Dan senandung dengan segala “rasa” ini yang mendorong kerelaan saya untuk menahan geli! Tak peduli yang lainnya gerah, marah, dengki, tensi darahnya naik, kebakaran jenggot, meliuk-liuk bak cacing kepanasan.

Katamsi Ginano, terserah dia mewujudkan bentuk dalam rupa apapun, adalah senior, teman, sahabat, abang bagi saya secara pribadi. Satu dekade lebih mengenal orang ini, membentangkan cakupan spektrum hidup penuh warna yang tak pernah aus dimakan waktu, keropos termakan usia. Tanpa perlu malu, terkadang saya takjub sembari berdecak kagum oleh luasnya spektrum yang ia bentangkan, dan tanpa sadar pun, itu secara tidak langsung merasuki hampir segenap pemikiran, pandangan, perspektif dengan aroma kritisnya tentang Bolaang Mongondow Raya, lengkap dengan segala aspek kehidupannya. Sebagai seseorang yang membuncah tak kala memamerkan “kemongondowannya”―dan itu yang paling getol ia pertahankan dalam setiap helaan nafas, detak jantungnya―jempol jari saya seperti enggan turun ketika dengan lugasnya ia berbicara tentang Bolmong dulu dengan segenap kenangannya, saat ini dengan segala dinamikanya, dan progress Bolmong kedepan tentu saja dengan harapan yang digantung setinggi langit peradaban yang menghentak, kadang membisu. Dan kebuncahan yang “disombongkan” ini merangkum segenap kata yang patut diuntai; konsistensi serta komitmen yang tak (belum) hadir untuk lekang.


Ruang Kosong “Keberpihakan”


Sejak kali pertama menerima telepon¬―tentu saja dari pemiliknya¬―pemberitahuan tentang “kronik mongondow” yang terlintas dalam benak adalah sekelumit “dugaan” dan “asumsi”. Untuk yang satu ini, karena bersingunggan dengan ranah privat, tidak ada seorang pun yang boleh melarang atau memaki saya untuk “menduga” dan “berasumsi”―tentu tak terkecuali Katamsi Ginano. Apalagi untuk seorang pengkritik “brutal” sekaliber ini, “dugaan” adalah keharusan, dan “asumsi” adalah kepatutan yang terkontekstualisasi oleh senandung yang ia lantunkan. Dan benar! Desas-desus yang selama ini mampir di telinga saya menuai titik terang bahwa; ada keberpihakan yang dipertontonkan dengan terang benderangnya, vulgar, melumat ranah “konsistensi” dan “komitmen” yang selama ini dijunjung setinggi langit. Dimana-mana kelaziman hadir untuk tak diperdebatkan ketika sesuatu yang “biasa” dapat diterima dalam “ranah publik”. Akan tetapi etika “pengkritik” tentu mengeneralisasi keberpihakan yang diperuntukkan. Untuk siapa keberpihakan itu? Untuk apa? Rakyat Bolmong lagi dimana? Dan untuk seorang Katamsi Ginano, tak perlu melumerkan air liur kemana-mana menghabiskan tenaga berdebat, abang saya ini tentu tahu “keberpihakan” harus ditempatkan di ruang seperti apa. Dalam konteks ini, otak kumal saya selalu berpaling ke pemahaman yang digambarkan Mohamad Sobary tentang konsep “menara gading-nya” bahwa; dengan berada di menara yang tinggi, bebas polusi kekuasaan dan materi, kreatifitas dan produktifitas kita dalam memberikan segenap pencerahan lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Eksistensi yang Terpinggirkan


Ketika “keberpihakan” dipamerkan, dipertontonkan, ditunjukkan se-vulgar mungkin di siang hari bolong, di tengah teriknya matahari yang menyengat, tentu konsekuensi sedang antri menunggu giliran. Pertama; secara tidak langsung konsistensi seorang Katamsi Ginano yang ia gambarkan penuh warna dalam spektrum perjalanan hidupnya akan sedikit tercoreng. Artinya, warna “putih” yang ia torehkan, terutama ketika memposisikan kewajibannya sebagai intau mongondow yang merasa terusik oleh berbagai kebijakan “salah kaprah” maupun perilaku menyimpang yang dipertontonkan elit daerah, baik itu jajaran pemimpin maupun para politisinya, akan menggiring persepsi masyarakat luas bahwa Katamsi Ginano yang selama ini identik dengan ke-brutalannya mengkritik, buas ketika kepentingan “orang banyak” ditelikung segelintir elit, mencaci maki ketika rakyat Bolmong sedang dibodohi, memijakkan kedua kakinya di tengah masyarakat Bolmong untuk memperjuangkan sebuah “harga diri”, ternyata urung berubah wujud. Katamsi yang terlanjur ditahbiskan sebagai milik “rakyat Bolmong”, juga bisa menunjukkan keberpihakannya pada se-kelompok elit. Dan pada akhirnya “putih” itu mungkin tak putih lagi.

Kedua; dengan pijakan yang secara gamblang ia tegaskan, ranah persepi orang banyak yang tentu saja masih berhak menjustifikasi lewat “dugaan” atau “asumsi” akan lebih tertarik kearah subjektifitas yang membabi-buta; bahwasanya keberpihakan itu pasti mengandung “pamrih”. Bahwasanya; Katamsi bisa “dibeli” boleh “dibayar”, layak “digadai” demi suatu maksud. Untuk yang ini, dalam beberapa kesempatan Katamsi telah mengklarifikasi langsung, termasuk terhadap saya pribadi. Namun, persepsi orang banyak tentu tak bisa ditebas. Apalagi ketika orang banyak itu adalah “rakyat Bolmong Raya” lengkap dengan segala dinamikanya.

Lepas dari segala konsekuensi yang ada¬―dan setahu saya, ia tentu tak akan pernah peduli dengan itu―Katamsi Ginano adalah warna tersendiri dalam jagad perpolitikan Bolmong Raya. Kalau boleh memimjan ungkapan William Liddle dalam buku “Islam Politik dan Modernisasi; Jakarta, Pustaka Sinar Harapan;1997”, terutama ketika ia harus menggambarkan sosok penyair besar sekaliber Goenawan Mohamad. Menurut saya pribadi, Katamsi Ginano adalah satu dari sekian “burung langkah dalam sangkar intelektual Bolaang Mongondow Raya khususnya, Sulut pada umumnya”. Sepuluh Katamsi sungguh tak cukup, seratus Katamsi masih kurang, dan seribu Katamsi belum memadai sebagaimana pernah diungkapkan Suhendro Boroma―Direktur Utama Manado Post. Tapi dilubuk hati yang paling dalam; saya masih merindukan satu orang Katamsi. Satu saja! Bukan dalam sosok “milik privat” tapi mewujud sebagai “milik publik”. Dan orang itu adalah Katamsi Ginano; senior, teman, sahabat, abang saya secara pribadi.#

Senin, 09 Agustus 2010

Belajar Berjiwa Besar



Dipublikasikan Harian Radar Totabuan, Senin, 09 Agustus 2010, untuk menanggapi polemik yang terjadi di wilayah Bolaang Mongondow Bersatu pasca Pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara periode 2010 – 2015.

Seorang tokoh agama Bolaang Mongondow bersatu, lebih spesifiknya salah satu ulama Kota Kotamobagu sebagaimana aktivitasnya yang diketahui masyarakat luas. Entah sadar atau tidak, marah, jengkel, gemas atau apapun itu, menumpahkan kekesalannya atas hasil quick count (hitung cepat) Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut Periode 2010-2015 dalam akun jejaring sosialnya dengan mengakronimkan LSI sebagai “Lingkar Setan Indonesia”. Sedikit menyinggung tentang “kebenaran yang akan terungkap”. Dan tidak lupa melaknat orang-orang yang memanfaatkan kecanggihan ilmu dan teknologi untuk kepentingan sesat. Saya jelas kaget campur heran oleh perkara seperti ini. Kaget karena jarang-jarang ada orang yang menyandang status sosial sebagai seorang “ulama” bisa senekat itu. Heran sebab, bukankah yang namanya “ulama” selalu hadir untuk untuk memberikan “pencerahan” di atas langit mendung anarkisme masyarakat luas yang sedang meninggi. Menurut saya, ada beberapa kemungkinan yang bisa saja mengiringi “status” sang ulama tersebut. Pertama; luapan emosi yang tak terbendung atas klaim kemenangan pasangan kandidat lain, sehingga lupa campur tak sadar dengan status sosial yang disandang. Kedua; bisa jadi sang ulama sedang mengalami yang namanya keseleo jari tangan ketika mengetikkan status tersebut. Kalau tidak untuk kedua-duanya, maka kemungkinan ketiga; bisa dipastikan sang ulama sedang berkutat dengan lamunan yang bagi saya, cukup keterlaluan. Sebagai orang yang cukup mengenal beliau, saya berharap yang disebutkan pertama menjadi kemungkinan terbesar yang mengiringi “status” yang di-update. Sebab bagaimanapun, ulama juga tak bisa menghindari kodratnya sebagai “manusia”, yang penuh khilaf maupun salah.

Salahkah Quick Count?

Sesuatu yang tak bisa dimungkiri, dalam perkembangannya demokrasi terkadang menuntut idealismenya. Tak peduli itu dibelahan dunia pertama maupun kedua, karena jauh sebelumnya George Sorensen telah meramalkan bahwa dunia ketiga termasuk Indonesia kita tercinta ini akan mengalami yang namanya “musim semi demokrasi”. Penerapan hitung cepat dalam pelaksanaan pesta demokrasi, baik itu pemilu legislatif, pilpres, pemilihan kepala daerah, mungkin juga adalah bagian dari musim semi dimaksud, dengan sejumlah dampak atau pun ekses bawaan yang selalu saja hadir mengiringi itu. Kalau mau ditilik kebelakang, sejak diujicobakan olah Forum Rektor dan LP3ES bekerjasama dengan National Democratic Institute for International Affairs (NDI) pada pemilu 1999, dan selanjutnya diterapkan lima tahun kemudian oleh LP3ES dengan mempublikasikan hasil pemilu 2004 dalam kurun waktu kurang dari 24 jam setelah pemungutan suara ditutup, sepak terjang quick count sering melahirkan pro dan kontra berbagai kelangan, tentu saja dengan beragam argumentasi. Yang pro beralasan bahwa selain dapat dijadikan data pembanding, hasil quick count juga bisa mengantisipasi maupun mengeleminir berbagai kecurangan yang mungkin bisa saja ada. Sedangkan mereka yang kontra ngotot bahwa selain telah mendahului kewenangan penyelenggara resmi pemilu, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mengumumkan hasil perolehan suara lewat mekanisme pleno sebagaimana diatur undang-undang pemilu, juga karena pubilkasi hasil quick count beberapa saat setelah pemungutan suara ditutup, dapat membentuk opini publik terhadap hasil pemilu, dan tentu saja menimbulkan keresahan ditengah masyaralat luas. Perdebatan mencapai klimaksnya awal 2009, dengan keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan permohonan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilhan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD yang diajukan Lingkar Survei Indonesia (LSI) dan Lembaga Survei Nasional (LSN), yang memutuskan Pasal 245 ayat (2), Pasal 245 ayat (3), Pasal 282 dan Pasal 307 Undang-undang tersebut bertentangan dengan konstitusi, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sehingga dengan sendirinya pelaksanaan survei pada masa tenang maupun penghitungan cepat dan publikasinya pada hari H pelaksanaan pemilihan, dibolehkan.

Kalau kemudian Mahkamah konstitusi telah membolehkan hasil quick count dipublikasikan secara luas, kenapa Bolmong harus bergolak pasca publikasi hasil penghitungan cepat ala LSI untuk Pilkada Gubernur – Wakil Gubernur Sulut, yang menurut lembaganya dimenangkan pasangan SHS – DK dalam satu putaran. Saya cukup paham, cukup mafhum bahwa setiap perhelatan memiliki panggung tersendiri untuk yang namanya eksistensi plus pertaruhan sebuah harga diri. Dalam perhelatan Pilkada Gubernur – Wakil Gubernur kali ini, saya rasa rakyat Bolmong Bersatu telah menunjukkan eksistensi dan harga diri lewat kemenangan pasangan SVR-MMS dengan presentase di atas 50%. Tapi menunjukkan itu secara berlebihan bukankah sedang menertawai kebodohan sendiri, sambil pura-pura lupa ingat bahwa bumi yang kita pijak ini adalah Indonesia; Negara Demokrasi, yang masih menjunjung tinggi perbedaan sebagai sebuah anugerah. Menyalahkan hasil quick count yang dipublikasikan LSI pada hari H pemilihan tidak ada bedanya dengan membungkam demokrasi yang sedang bersemi sambil secara sadar menenggelamkan nilai-nilai perbedaan dan kemajemukan yang sudah terpatri sedemikian kuatnya dalam peradaban negeri ini. Atau bisa saja, rakyat Bolmong untuk saat ini masih terkungkung dalam fase sebagaimana yang disebutkan Sartre sebagai sebuah “keyakinan buruk”. Di satu sisi, demokrasi harus dijunjung, perbedaan mesti dihargai, hak politik wajib dihormati, siap menang kalah dalam pilkada, namun di sisi yang lainnya; persetan dengan itu semua. Tahapan pilkada belum juga selesai, penghitungan suara masih sedang berlangsung, dan KPUD Sulut belum menggelar pleno untuk menentukan siapa pemenang Pilkada, maka untuk itu semua tak perlu risau dengan LSI, tak harus gundah gulana dengan hasil quick count. Toh keputusan resmi sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, tetap milik KPUD. Kalau kemudian ada kecurangan yang ditemui selama proses pencoblosan maupun penghitungan, kenapa kita tidak dengan kesantunan dan kesadaran tinggi menyerahlan itu ke ranah hukum, sambil menghormati proses yang sedang berlangsung sambil tak lupa awas mata telinga untuk mengawal dan mengawasi itu. Kalau hanya permasalahan opini publik yang terlanjur terbentuk sehingga mendatangkan keresahan di tengah masyarakat, jawabannya singkat dan jelas; kalau tak mau resah, jangan mau terpengaruh.

Belajar dari yang “Kalah”

Konsekuensi sebuah pertarungan adalah menang dan kalah. Saya teringat Ketua Dewan Pembina Korps Alumni Makassar Indonesia Bolmong, Djelantik Mokodompit, yang juga Walikota Kotamobagu. Dalam sebuah kesempatan ketika belum dilantik sebagai Walikota Kota Kotamobagu, dihadapan saya dan beberapa teman wartawan beliau mengatakan terjun ke dunia politik mengandung konsekuensi menang atau kalah; menang bukan segala-galanya dan kalah pun bukan akhir dari segalanya. Ketika kalah dalam Pilkada Bupati – Wakil Bupati Bolmong 2001, ia berucap “ ini bukan rejeki saya”. Begitu 2006 mengalami hal yang sama “Allah SWT belum mengijinkan”. Untuk kedua kekalahan tersebut beliau menambahkan “saya pasrah sambil berserah diri kepada Allah SWT”. Saat memenangi pertarungan Walikota Kotamobagu 2008 “Allah SWT telah mengijinkan, karena rejeki tidak akan lari kemana-mana”. Secara singkat beliau hakul yakin bahwa jalan hidupnya telah diatur dan ditentukan Allah SWT sebagai penentu kehendak.

Seandainya nanti dalam pleno penentuan pemenang Pilkada oleh KPUD Sulut, pasangan SVR – MMS dinyatakan kalah, maka itu adalah bagian kecil dari konsekuensi politik seorang politisi. Bukankah dalam debat kandidat Pikada Sulut beberapa waktu lalu yang ditayangkan salah satu TV nasional, dengan santunnya Bunda Marlina Moha Siahaan menyatakan Pilkada bukan segala-galanya, akan tetapi persatuan dan kesatuan di atas segalanya. Dan bagi saya pernyataan itu adalah konsekuensi dan bentuk komitmen seorang Bunda Pembaharu Totabuan untuk siap menang maupun kalah dalam pertarungan. Kekalahan bukan akhir dari segalanya, bisa jadi ia adalah kesuksesan yang masih tertunda. Jadikanlah itu pembelajaran yang amat berharga untuk menjadi motivasi seluruh masyarakat untuk memberikan yang terbaik bagi daerah ini. Kekhawatiran bahwa kekalahan SVR – MMS dalam pilkada, seperti menggantung mimpi Provinsi Totabuan di puncak ketidakpastian, bagi saya bukan alasan yang tepat, karena demokrasi dalam bentuk idealnya menempatkan kehendak rakyat di atas segalanya. Artinya ketika rakyat berkehendak, tidak ada satu pun yang bisa membungkam keinginan itu. Dengan ukuran kemenangan di wilayah Bolmong Bersatu yang cukup telak saat ini, ditambah fanatisme pendukung yang sangat solid, bagi saya sebuah keniscayaan bagi Bunda Marlina Moha Siahaan untuk menjadi Gubernur pertama pilihan rakyat Provinsi Bolmong Raya nanti, dan mungkin saat itu “Allah SWT telah mengijinkan, karena rejeki tak kan lari kemana-mana”.

Mungkin sudah saatnya kita semua untuk selalu menoleh kebelakang, bukan hanya melambaikan tangan kepada mereka-mereka yang pernah merasakan kekalahan, tapi datang menghampiri untuk menyapa, sambil belajar bagaimana pahit manisnya berpolitik dengan segala konsekuensinya . Tak perlu jauh-jauh mencari tempat bertanya, karena Djelantik Mokodompit, Hamdi Paputungan, Syahrial Damopolii, dan masih banyak lainnya, ada di sekitar kita semua. Mereka dengan penuh kesadaran sudah menunjukkan kesantunan dalam berdemokrasi, kedewasaan dalam berpolitik. Bagi saya, mereka tergolong orang-orang berjiwa besar, dan yang saya tahu Bunda Pembaharu Totabuan kita ini juga adalah golongan orang seperti itu.#